Riding Impression KTM Duke 200: Pahami Dulu Karakternya

  • Senin, 14 Agustus 2017 16:30 WIB

KTM Duke punya karakter beda dengan motor Jepang. | Indramawan

Sebagai auto reseller berbagai brands motor cc besar di Surabaya Barat, Saddle Motorbike punya program test ride untuk calon konsumen. Dan ketika mampir di showroom yang ada di Jl. Raya Menganti Wiyung 484, OTOPLUS mendapat tawaran menjajal KTM Duke 200.

“Kebetulan peminat KTM Duke ini lumayan banyak. Tapi untuk kawasan Surabaya, Duke 250 yang lebih banyak laku. Ada yg bilang, nanggung kapasitas mesin cuma 200 cc. Mending langsung 250 cc. Selain itu, Duke 250 lebih lengkap fitur-nya,” info Tri R. Sugiharto selaku pimpinan showroom.

Tapi bagi peminat, memang enggak ada salahnya jajal Duke 200 dulu. Apalagi bagi yang terbiasa bawa motor Jepang. Paling enggak ada gambaran, seperti apa performa motor yang bawa nama beken pabrikan Austria yang ngetop di arena balap, terutama off-road itu.

Selain itu, selisih harga Duke 200 dan Duke 250 lumayan juga lho. “Harga Duke 200 Rp 36.750.000, sementara Duke 250 Rp 47.800,” info Tri.

So, are you ready to race?

Naskah & Foto: Indramawan

undefined
KTM Duke 200

Sekilas KTM Duke 200

Kita kenalan dulu sama ‘Sang Pemimpin’. KTM Duke 200 masuk dalam kategori naked bike dan diproduksi KTM di pabrik Bajaj Autos Chakan - India, untuk dipasarkan ke seluruh dunia. “Paling kecil kapasitas 125 cc dan paling besar 1.400 cc. Tapi yang di Indonesia cuma Duke 200, 250, dan 390 cc yang beredar,” info Tri.

Duke 200 yang tester OTOPLUS jajal ini adalah keluaran 2016. Bermesin single cylinder, four stroke, kapasitas 199,5 cc, berpendingin cairan dan memiliki girboks 6 tingkat percepatan. “Meskipun keluaran 2016, tapi kami selalu melakukan check up setelah dipakai tes. Jadi motor selalu good condition,” ujar Sandy dari bagian marketing Saddle Motorbike yang menemani OTOPLUS selama tes.

Selain itu, secara spesifikasi, tidak banyak perubahan antara Duke 200 terbaru dan model 2016 ini. “Paling hanya beda stripping di tangki sama headlamp saja,” tunjuk Sandy.

Selain itu, ada info Duke 200 keluaran di atas tahun 2012 ini, menurut Sandy sudah mengalami perbaikan, sehingga masalah yang pernah muncul di model tahun sebelumnya, berupa mesin overheat dan suspensi bocor, tidak lagi muncul.

“Fan radiator sekarang lebih banyak. Kalau semula hanya ada satu kipas, sekarang ada kipas tambahan di samping,” tunjuk Sandy.

 

Riding Position

undefined
Riding position nyaman.

Secara tampilan, sosok KTM Duke 200 ini memang sangat macho. Namun bagi pemilik postur tubuh di bawah 170 cm pasti kaki akan kesulitan menapak aspal. “Tinggi saya 173 cm. Itu pun saya harus jinjit,” komentar tester OTOPLUS.

Namun secara keseluruhan, riding position KTM Duke 200 ini mendapat pujian dari tester OTOPLUS. “Duduk bisa tegak, posisi tangan dan kaki juga enak. Panel indikator juga mudah terbaca. Sepertinya saya akan betah turing bersama motor ini.”

 

Handling

undefined
Handling saat pengereman.

Ketika Duke 200 dibawa dari showroom Saddle Motorbike menuju lokasi test yang ada di kawasan perumahan mewah yang ada di Wiyung, kondisi lalu lintas memang sangat padat dan macet. Namun OTOPLUS merasa nyaman bermanuver di sela-sela kendaraan.

“Soal kenyamanan, Duke 200 ini sangat nyaman dikendarai di kemacetan. Bobotnya terasa ringan dan simple sehingga enak diajak meliuk-liuk,” komentar tester OTOPLUS. Namun demikian, radius putar setang dirasa sedikit sempit. “Juga sudut pandang spion sedikit sempit, sehingga kurang leluasa memantau kendaraan di belakang.”

Lokasi perumahan yang jadi lokasi tes memang sangat pas, karena selain sepi kendaraan, jalan sangat lebar dan memiliki trek lurus, dan model tikungan variatif.

OTOPLUS pun leluasa tekuk setang dan rebah badan saat membawa Duke 200. “Sepertinya setelan suspensi kurang keras, sehingga roda belakang sering membuang di tikungan. Selain itu, ketika saya coba stoppie, suspensi kiri terasa sedikit limbung,” komentar OTOPLUS.

Ketika diperiksa di lokasi tes, memang settingan suspensi belakang pada posisi soft. Sementara soal suspensi kiri yang limbung, bisa karena ban yang masih memakai merek MRF buatan India (Untuk Duke 250 sudah memakai Metzeller) atau kerikil-kerikil kecil di atas aspal.

“Sebab fork depan upside down WP dan brake system Brembo ini yang jadi fitur unggulan KTM Duke,” tanggap Rizky selaku coordinator marketing.

 

Engine Performance

undefined
Perlu setup RPM Limiter untuk kepuasan akselerasi.

Ketika mesin dinyalakan, bagi yang terbiasa dengan motor Jepang pasti akan langsung berkomentar, suara mesin Duke 200 ini kasar. Hal ini juga dikatakan tester OTOPLUS. Namun hal ini bukan  jadi masalah, karena sebelumnya memang dijelaskan bahwa suara mesin KTM beda dengan motor Jepang yang rata-rata halus, sehingga lebih cocok untuk telinga pengendara motor di Indonesia.

Suara knalpot juga tidak begitu spesial. Justu desain under-belly yang menarik. Karena moncong pipa gas buang ini menghadap ke bawah, dan posisinya berada tepat di centre of gravity (COG) motor sehingga berkontribusi ke weight distribution.

Yang jadi sorotan tester OTOPLUS justru adalah akselerasi. “Impresi saya masih kurang. Mungkin karena kapasitas mesin hanya 200 cc. Harusnya akan menarik seandainya dikomparasikan dengan Duke 250,” komentar tester OTOPLUS. “Itu bisa karena soal transfer tenaga, setting close ratio, atau mungkin model kampas koplingnya.”

Ketika masalah ini ditanyakan ke bagian teknikal Saddle Motorbike, didapat keterangan, bisa jadi karena setelan RPM Limiter yang jadi feature pada Duke 200. RPM 1, misalnya. Itu bisa disetel sendiri dari putaran mesin paling rendah 1.500 RPM hingga 7.450 RPM.  Begitu pula RPM2 yang bisa diubah-ubah sesuai keinginan.

Dan ketika RPM Limiter pada unit test Duke 200 yang OTOPLUS coba diperiksa, ternyata putaran mesin ‘dicekik’ hanya sampai 5.000 RPM. Untuk cara setup RPM Limiter ini silakan lihat tutorialnya di www.youtube.com/watch?v=3xHoTEn_SSU.

Hal lain yang jadi sorotan tester OTOPLUS adalah, perpindahan gigi yang keras. “Dari gigi 1 ke 2 agak keras. Juga gigi 1 ke netral. Selain itu perpindahan antar transmisi, hingga gigi 6 ada jeda di rpm, yang turun,” kata tester OTOPLUS.

Menanggapi hal ini, bagian teknikal Saddle Motorbike menjelaskan bahwa Duke 200 ini belum dilengkapi fitur quickshifter. Kalau untuk Duke 250 sudah ada quickshifter, sehingga perpindahan gigi lebih halus dan cepat, tanpa penurunan RPM yang berarti.

Soal top speed, karena lokasi tes ada dalam komplek perumahan, maka trek lurus yang tersedia kurang lebih hanya 200 meter. “Untuk jarak segitu, saya bisa sampai 80 km/jam pada gigi 3. Enggak sampai top speed. Tapi saya merasa, Duke 200 ini boleh juga buat turing jarak 250 km.” Begitu impresi OTOPLUS.  

 

Thanks To:

Saddle Motorbike

Jl. Raya Menganti Wiyung 484, Surabaya Barat

031-99425192 / 99425650.

Reporter : Otoplus Editor
Editor : Otoplus Editor

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×