Hongkingkong Custom: Love, Passion, Artwork, & Custom Culture

  • Selasa, 15 Agustus 2017 19:00 WIB

Hongkingkong Custom | Indramawan

Passion dan totalitas dalam bekerja dengan dilandasi kecintaannya terhadap custom culture, membuat nama Harsoyo Santoso atau lebih dikenal dengan nama Hongkingkong cukup dikenal di custom scene Surabaya. Beberapa kali memenangkan kontes di ajang Jatim Otomotif Festival (JOFEST), nama Hongkingkong boleh disejajarkan dengan builder papan atas Surabaya seperti Minority Custom, Smoke Belt Garage, Goedang Kotor, Force Custom Garage, Jowo Kustom dan masih banyak lagi.

Selain itu, pria yang juga suka dengan fotografi ini juga aktif sebagai partisipan di berbagai kegiatan yang digelar komunitas kustom di Surabaya. Berikut ini obrolan OTOPLUS bersama Hongkingkong, mengenai passion dan kecintaannya terhadap motor, profesi, karya seni dan juga custom culture.

Naskah & Foto: Indramawan

 

undefined
CB riwayat Hongkingkong Custom

Darimana asal nama Hongkingkong?

Motor saya dulu CB café racer. Tahu sendiri kan, CB itu kecil. Dibuat café racer, posisi berkendara jadi menunduk. Sementara postur tubuh saya terlalu besar untuk ukuran motor itu (tinggi 171 cm, berat 92 kg). Dari situ, saya sering dipanggil Kingkong… Kingkong… Dan karena nama panggilan saya di rumah Hong, maka akhirnya dihubung-hubungkan, sehingga jadi nama panggilan Hongkingkong. Mirip sama film kartun Donkey Kong…

undefined
Sangat menyukai cafe racer dan culture-nya.

Kapan mulai meng-custom motor?

Tahun 2011, saya mulai main motor… mulai suka motor custom. Kan sekitar tahun 2012, rame-ramenya café racer. Saya suka sekali café racer. Kulturnya, rockabilly, dandanannya, pokok semua kultur café racer saya suka. Karena itu di bengkel saya banyak poster café racer, seperti Ace Café. Dari situ saya mulai mengikuti café racer. Akhirnya saya benar-benar suka dan mulai menggarap motor café racer pertama tahun 2011. Awalnya, motor saya sendiri yang saya custom. Ya CB 100 Gelatik itu…

undefined
Belajar ilmu customizing secara otodidak.

Darimana Anda belajar soal customizing motor?

Dulu waktu saya SMA tahun 1996, motor saya ya CB itu. Tahu sendiri kan, motor tua. Jadi sering mogok. Tapi di situlah saya jadi tahu motor. Karena enggak mungkin saya terus-terusan ke bengkel, pakai uang saku sekolah, akhirnya saya tanya-tanya ke Om Welly, tetangga saya di Banjarsugihan ini, yang kebetulan juga buka bengkel dan sering terima garapan motor tua. Dari situ, di masa-masa SMA, saya enggak sempat ‘nakal’. Semua waktu saya habis di bengkel. Tapi senang, karena saya suka sekali ‘ongkek’ (balap liar) di Ngesong… SCTV... Waktu itu, kebanyakan teman saya naik Suzuki Crystal. Tapi saya naik CB ini. Zaman segitu enggak ada CB kencang. Malah seringnya, mogok. Pernah saya diolok-olok karena motor saya mogok hingga harus dorong di dekat kantor Pengadilan. Saat itu ada yang menghampiri saya. Saya pikir, mungkin dia kasihan lihat saya pakai seragam sekolah dorong motor. Enggak tahunya malah diolok-olok. “Mogok, Mas. Itu lho ada sungai. Ceburin aja ke situ…” Hahaha… semakin di-bully, saya justru semakin senang. Pikir saya waktu itu, ah motor kamu pasaran. Beda sama saya. Naik CB masih bisa bonceng cewek. Hahaha…

Reporter : Otoplus Editor
Editor : Otoplus Editor

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×